Laman

Cari aja disini yaa...!

Selasa, 29 April 2014

Sang Maestro Idris Sardi Tinggal Kenangan

Siapa yang tak kenal dengan tokoh biolis yang satu ini beliau piawai dalam memainkan  alat musik biola, Idris sardi begitu nama seniman musik kebangaan indonesia itu.  Kiprahnya dalam dunia musik banyak sekali karya yang dihasilkanya diantaranya ia telah mengiringiringi film cinta pertama yang diparenkanSlamet Raharjo dan Cristine Hakim 1970

Seiring waktu, pamor Idris Sardi kian melambung. Namanya tak lagi hanya dikenal sebagai pemain biola, tetapi juga sebagai seorang komposer dan dirigen.

Pada 1976, ayah dari aktor Lukman Sardi ini pernah memimpin orkestra Jepang dalam World Pop Song Festival di Tokyo. Saat itu, ia mengaransemen ulang lagu Renjana milik Guruh Soekarno Putra dan dinyanyikan oleh Grace Simon.

Sebagai penata musik film layar lebar, Idris Sardi bisa dikatakan sangat aktif. Pria berkacamata ini beberapa kali dipercaya sebagai penata musik untuk film-film garapan sutradara legendaris Tanah Air, Teguh Karya. Setidaknya 10 Piala Citra ia peroleh berkat kepiawaiannya membuat ilustrasi musik film.

Selain diakui di negerinya sendiri, Idris juga mampu membetot perhatian insan perfilman internasional. Terbukti, ia sukses meraih penghargaan Tata Musik Terbaik dalam film Bernapas Dalam Lumpur di Festival Film Asia pada 1970.

Idris tercatat pernah meraih penghargaan Legend Awards dalam acara Anugerah Musik Indonesia (AMI).

Selain itu, ia mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement dalam acara SCTV Music Awards. "Legend Awards itu merupakan penghargaan tertinggi bagi seorang musisi,” ucap Bens Leo.

Kini, sosok pekerja keras dan disiplin itu telah pergi. Idris Sardi tutup usia di Rumah Sakit Meilia Cibubur, Senin, 28 April 2014. Ia meninggal dunia di usia 75 tahun.

Kepergian sang maestro merupakan kehilangan besar bagi dunia musik Tanah Air. Hingga saat ini, belum ada pemain biola Tanah Air yang mampu menyaingi kemampuan Idris dalam melahirkan karya-karya besar.

“Saya kira sulit menemukan pemain biola seperti Mas Idris. Ia sudah lama bermain biola. Ayahnya seorang pemusik. Susah menyamai penghargaan yang diperolehnya. Karyanya sudah ratusan,” ujar Bens.

Ia juga menilai bahwa kebanyakan anak muda saat ini memilih untuk membuat ilustrasi musik film dengan menggunakan perangkat digital. Berbeda dengan Idris Sardi yang membuat ilustrasi musik dari permainan orkestra sungguhan. Kelebihan ini yang menjadikan Idris begitu istimewa.

Lainnya, karya Idris mampu dinikmati oleh berbagai kalangan. Ia tak hanya berkutat pada satu jenis genre. Pada 1980-an, orkestra Sardi pernah berkolaborasi dengan grup musik Soneta. Ketika itu, Idris bertindak sebagai dirigen.

“Membantu industri musik Indonesia lewat lagu. Lintas genre, sosial, dan bahkan lintas agama,” ucap Bens.

Sebelum meninggal, ujar Bens, almarhum sempat meminta agar karyanya yang berjumlah ribuan untuk dikumpulkan dan didokumentasikan. Tak sekadar audio, tapi juga audio visual.

“Beliau merasa karyanya banyak, sehingga perlu didokumentasikan. Saya dengar sudah dimulai,” kata Bens. Selamat jalan Bung Idris Sardi.